Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 03 September 2011

Anggota Tim Long Trip

Mau jadi fans Long Trip Mania? Mau tahu kegiatan kami? Mau jadi anggota kami? Mau terlibat dalam kegiatan kami? Caranya gampang, silahkan kirirm permintaan anda dengan cara klik  di bawah lencana  facebook "Fans Long Trip" di samping. Kemudian klik "Like/Suka"!!

Inilah anggota "Tim Long Trip Mania", silahkan klik lencana facebook dibawah ini untuk melihat profilnya. Bagi yang sudah daftar tetapi belum ada lencana facebooknya, kami mohon maaf. Untuk aktifkan keanggotaan silahkan kirimkan lencana profil anda dengan tata letak lencananya mendatar dan isi lencana bebas


















Kamis, 01 September 2011

Long Trip Ke Pura Gunung Dwangga

Long Trip kali ini menceritakan perjalanan tim Long Trip Mania melakukan Tirtayatra ke Pura Gunung Dwangga. Gunung Dwangga merupakan salah satu gunung yang ada di Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, Bali. Tepat di puncak Gunung Dwangga inilah terdapat tempat suci (pura) yang namanya Pura Gunung Dwangga. Untuk mengakses pura ini harus berjalan kaki kira-kira 2 jam perjalanan atau kurang lebih 10 km.

Perjalanan kami mulai pada pagi kira-kira jam 8 pagi. Sebelumnya tim telah mempersiapkan perbekalan yang mesti harus dibawa (makanan dan minuman). Tidak lupa juga membawa Banten Pejati (perlengkapan sembahyang). Dari rumah tim tidak langsung memakai pakaian adat ke pura, alsannya karena agar tidak ribet dan agar pakain kami tidak tersangkut oleh semak-semak belukar. Jadi pakaian kami taruh di dalam tas. Setelah persiapan selesai tim berangkat dengan menaiki sepeda motor, karena jarak rumah kami dengan kaki Gunung Dwangga kira-kira 2 km. Tim yang ikut pada waktu itu sebanyak 7 orang. Jalur yang kami tempuh melewati jalur Dusun Ulah, jalur ini yang paling dekat dengan desa kami. Sebenarnya banyak jalur yang bisa ditempuh untuk mencapai Pura gunung Dwangga.

Setelah mencapai Dusun Ulah, tim dihadapkan dengan puluhan anak tangga sebuah pura (tim kurang tahu namanya) dan dari sinilah petualangan dimulai. Tim melihat rimbunnya pohon cengkeh yang menghijau sepanjang perjalanan. Kira-kira pada jarak 500 meter dari areal tangga akan menemukan sebuah batu besar yang sangat unik, karena di atas batu itu ada sebuah gubuk kecil dan di bawah batu itu ada lubang kecil yang menyerupai gua (cukup dipakai untuk berteduh satu orang bila kehujanan tapi harus jongkok). 

Sekitar 50 meter perjalanan yang ekstra hati-hati dimulai karena jalannya tidak mendukung, banyak bebatuan dan jalannya agak terjal sedikit. Sedikit saja terpleset bisa terpental 10 meter, tapi jangan khawatir jalan yang extrem ini tidak panjang. Setelah melewati jalur ini akan menemukan jalan setapak yang tidak begitu hancur.

Tim istirahat setelah menemukan sebuah pelinggih bebaturan, ditempat inilah para pendaki maupun para tirtayatra istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Di tempat ini tim melakukan persembahyangan memohon keselamatan kepada Hyang Widhi agar sampai di puncak Gunung  Dwangga dengan selamat.


Tim melanjutkan perjalanan setelah selesai sembahyang di tempat istirahat pertama . Tm menemukan segerombolan kera yang bergelantungan di pohon kopi serta pemandangan yang memukau, sebentar-sebentar berhenti untuk melakukan foto-foto sambil canda tawa.


Lelah terobati setelah tim sampai di tempat tujuan yaitu Pura Gunung Dwangga. Jangan khawatir bila persediaan air yang di bawa habis, karena tidak jauh dari lokasi pura ada sumber mata air yang tidak pernah kering (berkali-kali tim melakukan tirtayatra dan mengunjungi mata air ini, airnya tidak pernah habis). Hal yang pertama kami lakukan setelah sampai ditempat tujuan adalah mencari mata air ini, lokasinya berada sebelah timur pura dan agak turun sedikit jalannya.

Lokasi tempat mata air yang ada di gunung Dwangga

Di tempat mata air ini tim melakukan kegitan sembahyang dan memohon air suci (tirta) ditempat ini, tapi sebelum itu kami membersihkan tangan dan kaki serta mencuci muka dengan air ini.  Mengambil beberapa botol air untuk bekal nanti melanjutkan perjalanan berikutnya, tidak lupa juga tim mengganti pakaian adat sembahyang dan menyalakan beberapa dupa. Di lokasi ini tim menghabiskan waktu kira-kira 25 menit. Kegiatan dilanjutkan menuju pura setelah selesai smbahyang di mata air suci.

Di pura ini setiap bulan purnama ramai dikununjungi oleh orang yang melakukan persembahyangan di Pura Dwangga. Pujawali dipura ini dilakanakan pada hari Saniscara Kliwon wuku Kuningan (pas Hari Raya Kuningan). Di Pura Gunung Dwangga ada empat buah pelinggih bebaturan. Sebelah utara ada satu buah pelinggih yaitu pelinggih dewa yang bestana di Gunung Agung dan di sebelah timur ada tiga buah pelinggih. Di pura ini tim melakukan persembahyangan kira-kira 30 menit.


Selesai sembahyang tim istirahat yang ke dua (membuka perbekalan yang di bawa). Di sini tim bercanda tawa sambil menikmati perbekalan yang dibawa masing-masing tim. Tim menghabiskan waktu istirahat kira-kira satu jam lebih, agar kondisi badan benar-benar fit sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.


Sehabis istirahat acara berikutnya adalah melakukan perjalanan tirtayatra ke Pura Pucak Sari (Pura Bukit Cemeng) di Bukit Cemeng. Bagaimana perjalanan kami ke Pura Pucak Sari? Yuk kita ikuti di sini.

Asiknya Nongkrong Di Bukit Asmara

Bukit Asmara merupakan sebuah nama untuk perbukitan yang terletak di Dusun Dukuh Ogang, Desa Sangkan Gunung, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, Bali. Tempat ini tepat berada di perbatasan antara Dusun Dukuh Ogang dengan Dusun Sanggem. Lokasi ini sangat cocok untuk kegiatan rekreasi menikmati pemandangan yang indah, cocok untuk kegiatan foto-foto maupun sekedar melepaskan lelah sebentar. Bukit Asmara sangat indah bila anda mengunjunginya pada pagi hari ataupun sore hari. 


 Kadang-kadang turis asing juga menyempatkan diri untuk berhenti sejenak untuk melakukan kegiatan foto-foto di tempat ini. Tempat ini merupakan jalur  akses Klungkung-Besakih-Kintamani. Dari kota Semarapura (kabupaten Klungkung) anda akan menempuh jarak kurang lebih 14 km. Dari sini akan terlihat kota kecamatan sidemen, sawah-sawah menghijau yang berundak-undak, pengunungan yang membentang sepanjang kecamatan Sidemen, sungai, dan pada pagi hari anda akan disuguhkan pemadangan matahari terbit yang mengagumkan. Bisa melihat gunung agung yang menjulang tinggi nan indah.


Jika anda kelaparan, di sepanjang jalur ini juga di sedikan warung makan ataupun restoran yang menyajikan berbagai menu makanan kesukaan anda. Bagi yang suka dengan buah salak bisa membelinya juga tapi harus memesannya terlebih dahulu kepada pemilik warung. Jangan  anda khawatir dengan pungutan apapun, karena di tempat ini tidak dipungut biaya apaun (gratis). Dari sini menuju Bendungan Tukad Yeh Unda jaraknya kira-kira 3 km. 


Tempat ini dijadikan tempat nongkrong bagi anak-anak muda dari desa setempat, bahkan anak-anak dari jauh juga ikut nongkrong-nongkrong ditempat ini bila hari libur. Momen yang paling ramai dikunjungi pas hari raya Galungan, pada hari tersebut banyak anak muda yang nimbrung di tempat ini.


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More